Mendorong Penguatan Kapasitas Gizi Melalui Pembelajaran dari Tingkat Nasional ke Daerah
Program yang berskala luas pastinya melibatkan orang, wilayah, dan kondisi kerja yang beragam.
Mengapa Satu Pelatihan Tidak Cukup?
Program yang berskala luas pastinya melibatkan orang, wilayah, dan kondisi kerja yang beragam. Satu pelatihan yang dilakukan di tingkat pusat mungkin menghasilkan pemahaman yang baik bagi peserta yang hadir, tetapi belum secara otomatis dapat menjangkau orang yang menjalankan layanan sehari-hari.
Pelatihan berjenjang atau cascading merupakan jalur penyebaran pengetahuan dari tingkat nasional menuju regional dan lokal. Setiap tingkat menyiapkan fasilitator yang tidak hanya memahami materi, tetapi juga mampu membantu peserta lain belajar dan menerapkannya.
Berdasarkan catatan Center of Excellence (CoE-PGN) di tahun 2025–2026 menunjukkan model ini dipraktikkan melalui rangkaian ToT di berbagai daerah, seperti Surabaya, Papua, Medan, Jakarta, Balikpapan, Kupang, dan Makassar.
Standar yang Dijaga Bersama
Pelatihan di tingkat nasional berperan dalam mengunci tujuan belajar, materi inti, batas pembelajaran, serta alat bantu yang harus konsisten. Kerangka inilah yang harus dijaga bersama agar pesan penting yang terdapat dalam materi tidak berubah ketika materi diteruskan dari satu kelompok ke kelompok lain. Namun, konsistensi tidak mewajibkan semua sesi yang dilakukan harus identik. Bahasa, contoh, tempo, metode, dan simulasi dapat disesuaikan dengan pengalaman peserta. Hal yang perlu dijaga adalah tujuan, prinsip utama, dan standar mutu yang telah disepakati.
Fasilitator sebagai Penghubung
Fasilitator posisinya berada di antara materi dan praktik. Mereka perlu memahami substansi, mengelola sesi diskusi, mengamati kesulitan peserta, serta menjelaskan konsep dengan cara yang relevan. Karena itu, kegiatan ToT sebaiknya dapat melatih kemampuan fasilitasi, bukan hanya meminta peserta menghafal isi modul. Adanya studi kasus, demonstrasi, simulasi, praktik mengajar, dan feedback antar peserta membantu fasilitator mencoba perannya sebelum mendampingi kelompok lain. Pendampingan setelah pelatihan juga penting ketika pertanyaan baru muncul di lapangan.
Adaptasi Lokal Tanpa Kehilangan Tujuan
Setiap wilayah pelatihan memiliki pangan lokal, kebiasaan, bahasa, akses, fasilitas, dan tantangan yang berbeda. Hal tersebut dapat dikaitkan dengan contoh yang dekat dengan kehidupan peserta, sehingga materi lebih mudah dipahami. Fasilitator regional dan lokal membantu menerjemahkan prinsip umum ke situasi nyata tanpa mengubah pesan keselamatan atau standar yang wajib. Adaptasi yang baik perlu didokumentasikan. Contohnya, hasil lokal yang berhasil dapat dibagikan kembali, sedangkan bagian yang membingungkan dapat menjadi masukan untuk memperbaiki modul di tingkat berikutnya.
Feedback Membuat Sistem Belajar
Pelatihan berjenjang sering dibayangkan sebagai alur satu arah dari pusat ke daerah. Padahal, sistem yang sehat juga membawa pembelajaran dari daerah kembali ke pusat. Catatan fasilitator, hasil praktik, pertanyaan berulang, dan kendala implementasi memberi informasi mengenai bagian yang perlu diperjelas atau diperbarui. Dengan alur dua arah, pelatihan tidak berhenti pada jumlah sesi atau peserta. Keberhasilannya dinilai dari kualitas proses belajar, kemampuan peserta menerapkan prinsip dengan aman, serta adanya perbaikan materi dan dukungan dari waktu ke waktu.
Jelajahi program, artikel, kegiatan, dan sumber pengetahuan CoE-PGN untuk menemukan titik masuk yang paling sesuai dengan kebutuhan anda.
