Berita Kegiatan

ToT Regional di Balikpapan Perkuat Kesiapan Kalimantan dalam Implementasi Program Makan Bergizi Gratis

Sebagai bagian dari upaya memperkuat implementasi Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di daerah, kegiatan Training of Trainers (ToT) Tingkat Regional Kalimantan telah dilaksanakan pada Rabu–Sabtu, 25–28 Februari 2026.

3 September 2026CoE-PGNUmum
ToT Balikpapan

Sebagai bagian dari upaya memperkuat implementasi Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di daerah, kegiatan Training of Trainers (ToT) Tingkat Regional Kalimantan telah dilaksanakan pada Rabu–Sabtu, 25–28 Februari 2026. Kegiatan ini diikuti oleh 41 peserta, yang berasal dari berbagai provinsi di wilayah Kalimantan.

Pelaksanaan ToT Regional Kalimantan di Balikpapan menjadi momentum penting dalam menyatukan pemahaman lintas provinsi mengenai pelaksanaan Program MBG, khususnya dalam aspek standar gizi, keamanan pangan, implementasi di satuan pendidikan, dan edukasi gizi. 

Peserta yang hadir berasal dari berbagai unsur lintas sektor, meliputi Dinas Kesehatan Provinsi, Pusat Pengendalian Lingkungan Hidup Kalimantan, Balai Besar POM dan Balai POM, Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi, Dinas Pendidikan Provinsi, Balai Penjaminan Mutu Pendidikan (BPMP), Kepala Regional Badan Gizi Nasional, dan DPD Persatuan Ahli Gizi Indonesia (PERSAGI). Keterlibatan berbagai unsur ini menunjukkan bahwa pelaksanaan Program MBG memerlukan koordinasi yang kuat agar setiap daerah tidak berjalan sendiri-sendiri, tetapi bergerak dalam kerangka standar yang sama.

Dalam kegiatan ini, peserta memperoleh penguatan terhadap tiga modul utama, yaitu:

  1. Standar Gizi dan Keamanan Pangan bagi Penjamah Pangan di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG); 
  2. Modul Pelatihan Implementasi Program MBG di Satuan Pendidikan; 
  3. Modul Edukasi Gizi pada Program Makan Bergizi Gratis di Satuan Pendidikan. 

Ketiga modul tersebut menjadi landasan penting dalam mendukung pelaksanaan Program MBG secara menyeluruh. Bukan hanya memastikan makanan yang diterima peserta didik memenuhi kebutuhan gizi, tetapi juga menjamin bahwa pangan diproduksi, dikelola, dan didistribusikan secara aman, higienis, dan sesuai standar. Pada saat yang sama, aspek edukasi gizi juga diperkuat agar program tidak berhenti pada distribusi makanan, melainkan turut membangun pemahaman dan kebiasaan makan sehat di lingkungan sekolah.

Pelatihan ini terselenggara dalam semangat kolaborasi melalui Centre of Excellence Pemenuhan Gizi Nasional (CoE-PGN) sebagai platform kerja sama antara Bappenas, Badan Gizi Nasional, IPB University, dan UNICEF. Kolaborasi tersebut menjadi pondasi penting dalam memastikan bahwa modul pelatihan resmi yang dikembangkan dapat menjadi panduan teknis yang seragam bagi fasilitator di berbagai wilayah Indonesia.

Dalam konteks Kalimantan, penguatan fasilitator regional memiliki makna yang sangat strategis. Wilayah ini menghadapi tantangan tersendiri, mulai dari distribusi pangan, ketersediaan sumber protein lokal, hingga pengawasan mutu di daerah yang memiliki karakter geografis beragam, termasuk wilayah yang relatif terpencil. Karena itu, pelatihan ini dirancang bukan hanya untuk memperkuat pemahaman teoritis, tetapi juga untuk membekali peserta agar mampu menyesuaikan penerapan standar dengan konteks lokal di daerah masing-masing.

Selama pelaksanaan kegiatan, peserta mengikuti sesi materi, diskusi, dan pendalaman modul yang diarahkan untuk memperkuat kapasitas mereka sebagai fasilitator. Para peserta diharapkan menjadi pengganda dampak (multiplier effect) yang akan meneruskan pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh kepada tenaga pendidik di satuan pendidikan maupun penjamah pangan di SPPG, sehingga penerapan program dapat berlangsung lebih efektif, sistematis, dan berkelanjutan.

Pelaksanaan ToT Regional wilayah Kalimantan juga menegaskan bahwa keberhasilan Program MBG tidak hanya bergantung pada tersedianya makanan, tetapi juga pada terbangunnya sistem yang mampu menjaga keamanan pangan, kecukupan gizi, dan keberlanjutan program dalam jangka panjang. Dengan demikian, program ini diharapkan tidak hanya memberi manfaat langsung bagi peserta didik, tetapi juga menjadi bagian dari investasi kesehatan, kecerdasan, dan produktivitas generasi masa depan.

Melalui kegiatan ini, diharapkan fasilitator regional di Kalimantan semakin siap mengawal implementasi Program MBG secara lebih harmonis, terukur, dan akuntabel di seluruh provinsi. Penguatan kapasitas lintas sektor yang dibangun melalui ToT ini menjadi langkah penting dalam membentuk pelaksanaan program yang berkualitas, merata, dan berkelanjutan, sejalan dengan upaya mewujudkan generasi Indonesia yang sehat, cerdas, dan unggul menuju Indonesia Emas 2045.