ToT Regional di Kupang Perkuat Kesiapan NTT, NTB, dan Bali dalam Implementasi Program Makan Bergizi Gratis
Sebagai bagian dari upaya memperkuat kesiapan daerah dalam implementasi Program Makan Bergizi Gratis (MBG), telah dilaksanakan kegiatan Training of Trainers (ToT) Tingkat Regional NTT, NTB, dan Bali pada 4–7 Februari 2026.
Sebagai bagian dari upaya memperkuat kesiapan daerah dalam implementasi Program Makan Bergizi Gratis (MBG), telah dilaksanakan kegiatan Training of Trainers (ToT) Tingkat Regional NTT, NTB, dan Bali pada 4–7 Februari 2026. Kegiatan ini diikuti oleh 27 partisipan, dari wilayah Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, dan Bali.
Pelaksanaan ToT di Kupang menjadi momentum penting dalam penguatan kapasitas fasilitator regional, khususnya untuk memastikan bahwa implementasi MBG di daerah berjalan sesuai standar, mulai dari aspek gizi, keamanan pangan, hingga edukasi gizi di satuan pendidikan. Kegiatan ini juga menegaskan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam mendukung program prioritas nasional yang berorientasi pada peningkatan kualitas sumber daya manusia Indonesia.
Kegiatan dibuka secara resmi oleh Gubernur Nusa Tenggara Timur, Melki Laka Lena, yang dalam sambutannya menekankan pentingnya percepatan implementasi Program MBG di wilayah NTT dan kawasan sekitarnya. Pelatihan ini diharapkan dapat mendukung peningkatan pelaksanaan program di daerah, termasuk melalui penguatan pemahaman terhadap standar keamanan pangan dan pemenuhan gizi dalam setiap tahapan implementasinya.
Selain itu, dukungan terhadap kegiatan ini juga ditegaskan oleh berbagai pihak sebagai bagian dari komitmen bersama untuk menyiapkan generasi masa depan yang lebih sehat, cerdas, dan berkualitas. Program MBG dipandang bukan hanya sebagai penyediaan makanan bagi anak-anak, tetapi juga sebagai investasi jangka panjang bangsa yang memerlukan tata kelola yang profesional, akuntabel, dan berkelanjutan.
Peserta ToT Regional Kupang berasal dari berbagai unsur strategis lintas sektor, diantaranya Dinas Kesehatan Provinsi, Dinas Pendidikan, Pusat Pengendalian Lingkungan Hidup Bali dan Nusa Tenggara, Balai Besar POM, Kantor Wilayah Kementerian Agama; Balai Penjaminan Mutu Pendidikan (BPMP), Kepala Regional Badan Gizi Nasional, Dewan Pimpinan Daerah Persatuan Ahli Gizi Indonesia (PERSAGI), serta unsur akademisi dari Universitas Nusa Cendana (Undana). Kehadiran peserta dari berbagai institusi tersebut menunjukkan bahwa pelaksanaan MBG memerlukan koordinasi dan sinergi yang kuat antar pemangku kepentingan di tingkat daerah.
Dalam pelatihan ini, peserta memperoleh penguatan terhadap tiga modul utama, yaitu:
- Standar Gizi dan Keamanan Pangan bagi Penjamah Pangan di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG);
- Modul Pelatihan Implementasi Program MBG di Satuan Pendidikan;
- Modul Edukasi Gizi pada Program Makan Bergizi Gratis di Satuan Pendidikan.
Ketiga modul tersebut dirancang untuk mendukung pelaksanaan Program MBG secara menyeluruh. Modul pertama berfokus pada penguatan standar gizi dan keamanan pangan bagi penjamah pangan di SPPG, modul kedua menitikberatkan pada implementasi program di satuan pendidikan, sementara modul ketiga memperkuat aspek edukasi gizi agar program tidak hanya memberi manfaat secara langsung, tetapi juga membangun pengetahuan dan kebiasaan makan sehat pada peserta didik.
Pelatihan ini menghadirkan fasilitator lintas sektor dari Kementerian Kesehatan, Badan Pengawas Obat dan Makanan, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, dan IPB University. Keterlibatan berbagai institusi tersebut memperkaya substansi pelatihan sekaligus memastikan bahwa materi yang diberikan relevan dengan kebutuhan implementasi program di lapangan.
Selama empat hari pelaksanaan, peserta mengikuti sesi materi, diskusi, serta pendalaman modul yang dirancang untuk memperkuat pemahaman konseptual dan teknis. Selain menguasai materi, peserta juga dipersiapkan untuk menjalankan peran sebagai fasilitator regional yang nantinya mampu memberikan pelatihan lanjutan kepada tenaga pendidik di satuan pendidikan maupun penjamah pangan di SPPG.
Pelaksanaan ToT Regional Kupang menegaskan bahwa penguatan kapasitas daerah merupakan pondasi penting bagi keberhasilan Program MBG. Dengan adanya fasilitator yang memahami standar pelaksanaan program secara komprehensif, diharapkan implementasi MBG di wilayah NTT, NTB, dan Bali dapat berlangsung secara lebih efektif, aman, dan berkualitas.
Melalui kegiatan ini, CoE memandang bahwa penguatan fasilitator regional bukan hanya menjadi bagian dari strategi pelatihan, tetapi juga merupakan langkah nyata dalam membangun ekosistem implementasi Program MBG yang kokoh di daerah. Ke depan, hasil dari ToT ini diharapkan dapat mendukung perluasan praktik baik, memperkuat koordinasi lintas sektor, dan mendorong keberlanjutan pelaksanaan program dalam upaya mewujudkan generasi Indonesia yang sehat dan unggul.
